Riwayat
View kota Sorowako
Pertama, Sorowako berasal dari kata Serewako, nama sejenis tanaman yang mirip bunga kenanga. Tanaman ini dulu banyak tumbuh di daerah ini. Kedua, berarti “tempat mundur”. Konon, pada masa silam, tempat ini dibangun sebagai permukiman baru pada saat penduduk Kampung Helai terpaksa mengungsi.
Sebelum kedatangan PT Inco, Sorowako adalah kampung kecil yang terletak di tepi Danau Matano. Dalam perkembangannya, secara administratif, kampung Sorowako disebut sebagai Desa Nikkel. Penduduk kampung ini dikenal sebagai orang Sorowako.
Sorowako 1972 (foto: R. Musu)
Berdasarkan data Pemerintah Kecamatan Nuha, pada bulan Januari 2009, luas dan jumlah penduduk ketiga desa tersebut sebagai berikut: Desa Sorowako 178 km2, berpenduduk 8.168 jiwa; Desa Magani 206 km2, 9.221 jiwa; Desa Nikkel 151 km2, 6.760 jiwa.
Dua desa lain yang masuk dalam Kecamatan Nuha adalah Desa Matano, dengan luas 242 km2 dan berpenduduk 1.736 jiwa serta Desa Nuha, dengan luas 86 km2 dan berpenduduk 531 jiwa.
Sebagian masyarakat Sorowako bekerja sebagai karyawan PT Inco atau kontraktornya. Sebagian lainnya menggantungkan hidup dari hasil pertanian dan perkebunan. Selain itu, mereka juga membuka usaha lain, semisal perdagangan dan layanan jasa. Industri tambang PT Inco telah membuat Sorowako berkembang dari desa kecil menjadi kota industri yang modern.
Sorowako dikala malam
Di kawasan perkotaan Sorowako, sekarang ini didiami oleh berbagai etnis dari seluruh pelosok tanah air, seperti Bugis, Makassar, Toraja, Jawa, Batak, dan lain-lain. Mereka hidup berdampingan dengan orang asli Sorowako, termasuk orang Karunsie, Tambee, dan Padoe. Selain itu sejumlah ekspatriat juga tinggal di Sorowako. Mereka berasal dari berbagai bangsa seperti Kanada, Brazil, Australia, Selandia Baru, Afrika Selatan dan lain-lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar