Minggu, 02 Juni 2013

Komunitas

Pilihan Mengisi Waktu Luang
Sorowako tak hanya menyajikan panorama alam yang mempesona setiap kali mata memandang. Hutan, gunung, sungai, dan danau yang dimiliki ternyata juga menjadi arena berpetualang yang seru dan mengasyikkan untuk melepas jenuh dari  rutinitas kerja dan keseharian. Saat ini terdapat berbagai klub penyalur hobi di Sorowako.
  • Matano Yacht Club
Fasilitas berselancar angin tersedia di MYC
Fasilitas berselancar angin tersedia di MYC
Danau Matano yang merentang luas  seolah menjadi surga bagi para pecinta water sport di Sorowako. Berenang di Pantai Ide, Salonsa, dan pantai lainnya sambil menikmati kejernihan airnya adalah alasan utama banyak orang mengunjungi Danau Matano.
Menjelajahi Danau Matano dengan wind surfboard juga menjadi aktivitas yang seru. Pada sore hari atau sekitar pukul 16.00 wita, angin di danau cukup kencang sehingga menjadi mesin yang mendorong Anda dan papan seluncur melaju dengan bebas di permukaan danau. Selain itu, dengan menggunakan kayak, Anda dapat berpetualang di sepanjang pesisir danau. Di sini diperlukan kemahiran mengayuh dayung berbilah ganda untuk mengarahkan laju perahu kayak Anda.
  •  Sorowako Diving Club
Aktivitas penyelaman di Teluk Bone, Malili
Aktivitas penyelaman di Teluk Bone, Malili
Kejernihan Danau Matano dan kedalamannya yang hampir mencapai 600 meter menjadi daya tarik peminat scuba diving yang tergabung dalam Sorowako Diving Club (SDC) untuk menyusuri alam bawah air. Sebuah gua alam dan pulau  di sudut Danau Matano antara lain menjadi dive spot yang menarik. Di sini kita akan menjumpai Ikan-ikan endemis yang berwarna-warni dan pecahan tembikar tanah liat pada kedalaman 20-30 meter.
Selain menyelami air tawar, kawasan Pulau Bulupoloe di lepas pantai Perairan Teluk Bone  Kecamatan Malili juga menjadi taman bermain bagi penyelam SDC. Gugusan karang yang indah dan kaya akan berbagai jenis ikan merupakan daya tarik yang luar biasa.
  • Sorowako Photographer Society
Tak terhitung berapa kali anggota Sorowako Photographer Society (SPS) menjadikan sudut-sudut Danau Matano sebagai objek jepretan kamera mereka. Komunitas ini juga kerap mengabadikan dinamika fisik dan sosial Sorowako dan sekitarnya serta berbagai kegiatan di lokasi penambangan. Karya-karya pilihan komunitas ini telah dipamerkan pada tiga kali penyelenggaraan pameran Sorowako in Pictures.
  •  Sorowako Painting Club
Pameran lukisan SPC
Pameran lukisan SPC
Sorowako Painting Club (SPC) merupakan kelompok pelukis yang mencoba memindahkan imaji keindahan alam Sorowako, sosial dan budaya Sorowako serta kegiatan penambangan ke dalam kanvas. Hasil karya SPC telah dipamerkan pada beberapa kegiatan pameran juga melalui beberapa galeri seni, seperti Papyrus Resto and Gallery.
  • Sorowako Bicycle Club
Sobec
Sobec
Kontur alam dan hutan menjadi arena bermain yang seru untuk dijelajahi para pecinta olahraga sepeda yang tergabung dalam Sorowako  Bicycle Club (SOBEC).  Hampir setiap hari libur, selalu ada rute-rute baru yang menantang untuk dijajal. Kondisi trek cukup variatif berupa jalan tanah, bebatuan, tanjakan, sungai kecil, dan kawasan pedesaan.
  • Sorowako Hash House Harriers
Hash
Hash
Jika Anda penggemar jogging, jalan-jalan di kawasan permukiman karyawan PT Inco di Pontada dan Salonsa sangat nyaman dan aman dijelajahi pada pagi atau sore hari. Anda pun bisa bergabung dengan komunitas Sorowako Hash House Harriers. Anggota komunitas ini rutin menjelajahi rute-rute olahraga lari di alam terbuka, termasuk kawasan purnatambang.
  • Sorowako Fishing Club
Letak Luwu Timur sebagai kabupaten dengan garis pantai terpanjang di Sulawesi Selatan memberi potensi perikanan dan kelautan yang menjanjikan. Hal ini  dimanfaatkan oleh mereka yang hobi memancing. Tak heran peminat hobi ini cukup banyak dan tergabung dalam komunitas Sorowako Fishing Club. Baru-baru ini mereka sukses mengadakan lomba memancing se-Kabupaten Luwu Timur.   
  • Sorowako Trail Adventure Community
Kegiatan petualangan lintas alam bermotor belakangan ini menjadi salah satu hobi para pemilik sepeda motor jenis trail di Sorowako. Mereka tergabung dalam komunitas yang disebut Sorowako Trail Adventure Community (STAR).
Selain menjajal berbagai kawasan perbukitan di Sorowako dan sekitarnya, anggota STAR juga terlibat dalam beberapa kegiatan sosial, seperti bencana banjir di Palopo baru-baru ini. Dengan motor trail, mereka mampu menerobos masuk ke pelosok lokasi bencana yang sulit dijangkau untuk menyalurkan bantuan sembako .
  •  Lain-Lain
Fasilitas bermain golf
Fasilitas bermain golf
Sorowako amat memanjakan pecinta olahraga. Tersedia lapangan tenis, lapangan sepak bola, bola basket, bulu tangkis, fitness center dan tempat latihan beladiri yang bisa dipakai dengan biaya sangat murah dan bahkan gratis. Tempat-tempat itu tersebar di wilayah permukiman karyawan maupun penduduk. Demikian pula dengan lapangan golf sembilan holes dan driving range, terbuka untuk siapa pun yang ingin berlatih golf dengan biaya relatif ringan. Lapangan golf tersebut dikelola Sorowako Golf Club (SGC).
Fitness center
Fitness center
Selain klub-klub yang bersifat fisik, terdapat pula kelompok sosial. Sebut saja Sorowako Community Volunteers (SCV). Aktivitas utama komunitas ini adalah menggalang dana untuk memberikan bantuan medis atau pendidikan kepada kalangan kurang mampu di Sorowako dan sekitarnya. Hal yang kurang-lebih sama dilakukan oleh Ikatan Keluarga Inco (IKI) dan Sorowako Women League (SWL).
Salah satu kegiatan sosial SWL
Salah satu kegiatan sosial SWL
Ada pula komunitas lain bernama Golongan Lupa Umur (GLU). Anggotanya adalah karyawan lajang PT Inco di kompleks D-Single. Komunitas ini juga senantiasa melakukan kegiatan-kegiatan positif semisal aksi pembersihan danau, lomba olahraga, kegiatan kesenian dan banyak lagi.
Sementara itu, menyangkut pengembangan keterampilan dan intelektualitas, sejak 2003 terbentuk Sorowako Toastmaster Club. Ini adalah klub jejaringan internasional dengan aktivitas utama mengasah kemahiran anggotanya berbahasa Inggris. Sedangkan di bidang seni budaya, terdapat Sanggar Seni Measa Aroa, Sanggar Seni Sorowako, Sanggar Seni Tiando Lowo dengan kegiatan teater, musik, dan seni rupa.

makanan khas

Kuliner

Sorowako dan sekitarnya sarat aneka kuliner yang patut dicicipi.
  •  Kapurung
kapurung
kapurung
Diolah dari bahan dasar sagu yang dimasak hingga kenyal. Setelah itu, dibentuk bulatan-bulatan kecil menggunakan dua sumpit. Lalu dimasukkan ke dalam campuran kuah ikan dan sayur bayam, kangkung, serta jantung pisang yang telah dibumbui terasi, cabai, dan asam patikala. Kapurung biasanya disantap dengan parede (sup ikan kuah asam) atau ikan bakar.
  •  Dange
Merupakan makanan khas masyarakat Luwu sejak dulu. Bentuknya pipih dan berwarna putih, mirip kue, tapi sebenarnya adalah makanan berat pengganti nasi. Rasanya hambar dan agak keras. Karena itu, untuk memakannya terlebih dahulu dicelupkan kedalam parede. Tapi jangan terlalu lama karena dange bisa hancur. Dange juga biasanya disantap dengan lawa’ dan pecco’.
  •  Lawa’ dan Pecco
Lawa’ adalah daging ikan mentah yang direndam dengan asam cuka atau perasan jeruk nipis, kemudian dicampur dengan parutan kelapa yang sudah ditumis bersama cabai. Selain berbahan ikan, lawa’ juga dapat dibuat dari sayuran yaitu pakis yang dicampur dengan kelapa goreng dan bumbu.
Sementara Pecco’ adalah mentah segar yang dicampur dengan asam cuka dan cabai saja.  
Kapurung, Lawa’, Pecco’ memang jarang dijumpai di rumah makan yang ada di Sorowako. Hidangan ini lebih banyak dibuat untuk konsumsi keluarga. Namun demikian, tidak sulit juga untuk mendapatkannya. Sejumlah rumah makan di Malili, ibukota Kabupaten Luwu Timur telah menyajikan hidangan ini dengan harga sekitar Rp5.000,- untuk setiap porsinya, atau Rp10.000-an apabila ditambah ikan bakar.
  • Jus Dengen
Jus Dengen
Jus Dengen
Di Sorowako, Anda bisa menikmati sajian minuman dari jus buah unik, yaitu Dengen. Dengen (Dillenia serata) adalah buah yang banyak tumbuh di wilayah Luwu Timur, termasuk di tepian Danau Matano. Bentuk, ukuran, dan rasa buah dengen hampir sama dengan jeruk. Uniknya, jika sudah matang, kulit buahnya akan terbuka sendiri layaknya kelopak bunga. Meski sudah masak, dengen terasa sangat masam bila dimakan secara langsung. Namun, berkat kreativitas para koki lokal, buah ini diolah menjadi jus buah yang sangat segar.
  • Patikala
Buah Patikala, asam khas Luwu
Buah Patikala, asam khas Luwu


Bentuknya mirip buah nanas atau seperti buah honje di Jawa Barat. Patikala menghasilkan rasa asam yang khas dan aroma yang berbeda dibanding jenis asam lainnya. Karena itu, patikala menjadi bumbu wajib dalam membuat kapurung dan parede.


Bersumber dari Danau Matano, masyarakat lokal Sorowako mampu mengolah beberapa biota endemis danau menjadi hidangan tradisional yang sarat protein:
  • Winalu botini, yaitu pepes ikan botini
  • Winalu ateno, adalah pepes hati ikan botini
  • Botini nahu santa, yakni ikan botini masak santan
  • Botini nahu olo, ialah ikan botini masak asam (menggunakan asam dari buah patikala)
  • Bungka olo, yakni kepiting masak asam
  • Dapa opudi, adalah ikan opudi yang diasapi
  • Winalu meti, yaitu pepes tiram
  • Gami kolame, adalah sambal rawit kolame (salah satu jenis udang Danau Matano)

Pada hari-hari besar tertentu atau acara adat, Anda dapat menjumpai makanan khas berikut ini:
  • Pewo (nasi bambu): beras ketan putih atau hitam yang dimasukkan ke dalam bambu yang dilapisi daun pisang, diberi santan, dan kemudian dibakar.
Nasi Bambu
Nasi Bambu
  • Winalu: beras biasa yang dibungkus daun (daun khusus yang di daerah ini disebut lewe powalu), kemudian dimasukkan ke dalam bambu agak besar, diberi air, dan selanjutnya dibakar.
Proses pembuatan Winalu
Proses pembuatan Winalu
  • Binalo: lauk-pauk, terbuat dari batang pisang muda diiris tipis dicampur daging kerbau, sapi, dan daging lainnya atau jeroan, kelapa parut, berbagai bumbu, dan kemudian dimasukkan ke dalam bambu untuk selanjutnya dibakar bersama dengan pewo dan winalu.
Binalo
Binalo
  • Wokeno: tape manis dari beras ketan hitam atau merah.
  • Pongasi: minuman beralkohol dari wokeno (tuak dari nira pohon aren atau kelapa).
Pongkasi
Pongasi

budaya

Budaya

Sorowako kaya dengan keberagaman budaya. Anda beruntung  jika bisa menyaksikan beberapa atraksi seni dan budaya masyarakat Sorowako ini.
  • Meopudi
Meopudi
Meopudi
Atraksi menangkap ikan opudi (Telmatherinidae) di Danau Matano dengan menggunakan daun kelapa. Satu kelompok biasanya terdiri dari lima-enam orang perempuan yang akan menggiring ikan-ikan opudi masuk dalam perangkap. Kekompokan tim, keseragaman gerakan dalam menghalau ikan-ikan opudi menjadi poin penilaian juri dalam menetapkan pemenang. Kegiatan ini biasanya diadakan setahun sekali pada perayaan hari kemerdekaan Indonesia.
  •  Monsado
Pada masa lampau, tarian ini dilakukan untuk menyambut pemimpin perang beserta laskarnya sekembali dari medan perang.
Para penari, dengan posisi berjongkok, melambai-lambaikan tangan, tanda mereka sedang menunggu berita apakah para laskar menang atau kalah perang. Selanjutnya dari arah lain muncul dua atau empat lelaki yang kembali dari medan perang. Jika terdengar teriakan “Hi….hi…hi…”, berarti para laskar datang dengan membawa kemenangan. Sebaliknya, jika terdengar pekikan “Hu…hu…hu…”, pertanda mereka kalah perang dan membawa jenazah teman yang gugur. Sekarang ini, Tari Monsado lebih sering digelar untuk menyambut tamu-tamu istimewa dalam pesta budaya di Sorowako.
  • Nohu Bangka
Nohu Bangka
Nohu Bangka


Seni menumbuk di lesung dengan alu yang dimainkan oleh sekelompok orang untuk menghasilkan irama yang indah didengar.


  • Padungku
Nasi Bambu yang sedang dibakar
Nasi Bambu yang sedang dibakar
Diadakan pada setiap akhir masa panen. Merupakanritual ungkapan syukur petani kepada Sang Pencipta atas hasil panen yang telah didapat.  Acara ini dipimpin oleh kepala desa dan beberapa tetua desa.
Pesta rakyat ini dilakukan tiap keluarga dengan menyediakan hidangan terbaik, berupa pewo atau nasi bambu. Hidangan tersebut diletakkan di tempat pemanggangan di setiap halaman rumah hingga menjelang pagi hari, kemudian dikumpulkan bersama di suatu tempat tertentu yang disepakati bersama. Nasi bambu tersebut akan disajikan bersama aneka hidangan daging.
Padungku menjadi simbol kebersamaan seluruh masyarakat. Dalam bahasa Sorowako disebut peasa roa. Dalam kesempatan ini semua handai-taulan dan kerabat jauh bersama para tetangga datang berkunjung. Usai makan bersama, biasanya dilanjutkan dengan pertandingan sepak bola antarkampung, lomba dayung, musik bambu, dan nohu bangka.
Pada malam hari, masih ada pesta yang tak kalah meriahnya, yaitu kesenian tradisional berupa tarian Malulo dan Madero. Tari yang melibatkan puluhan pasang muda-mudi ini biasanya dilakukan hingga pagi, diiringi alunan suara gendang, gong serta pantun. Bagi generasi masa sekarang, Madero dan Malulo banyak ditampilkan dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan lainnya, diiringi lagu dan instrumen modern.
  • Musik Bambu
Memainkan suling besar
Memainkan suling besar
Perpaduan suara dari seperangkat alat musik yang terbuat dari bambu mampu menghasilkan irama yang enak didengar. Untuk membentuk grup musik bambu yang ideal diperlukan pemain sebanyak 35 orang dengan komposisi: 7 peniup suling besar dan kecil, 28 peniup bass, dan pemukul gendang.
Musik bambu dikembangkan pertama kali pada 1917 oleh Ruru yang datang ke Desa Matano dalam tugasnya sebagai kepala sekolah. Berkat tangan terampil Ruru dan keluarganya berhasil menyulap bambu-bambu tipis yang banyak tumbuh liar di sekitarnya menjadi alat musik. Selanjutnya dari Desa Matano, musik bambu menyebar ke Sorowako. Dan hingga kini menjadi salah satu musik tradisional masyarakat setempat.

sorowako

Riwayat

View kota Sorowako
View kota Sorowako
Tak ada catatan pasti mengenai asal-usul nama Sorowako. Namun, berdasarkan informasi para tetua masyarakat, istilah Sorowako punya dua pengertian.
Pertama, Sorowako berasal dari kata Serewako, nama sejenis tanaman yang mirip bunga kenanga. Tanaman ini dulu banyak tumbuh di daerah ini. Kedua, berarti “tempat mundur”. Konon, pada masa silam, tempat ini dibangun sebagai permukiman baru pada saat penduduk Kampung Helai terpaksa mengungsi.
Sebelum kedatangan PT Inco, Sorowako adalah kampung kecil yang terletak di tepi Danau Matano. Dalam perkembangannya, secara administratif, kampung Sorowako disebut sebagai Desa Nikkel. Penduduk kampung ini dikenal sebagai orang Sorowako.
Sorowako 1972 (foto: R. Musu)
Sorowako 1972 (foto: R. Musu)
Setelah PT Inco hadir, Sorowako menjadi nama desa baru, yakni Desa Sorowako, yang merupakan pemekaran dari Desa Nikkel. Istilah Sorowako pun menjadi lebih tersohor sebagai nama kawasan permukiman dan pusat operasional PT Inco. Saat ini, wilayah perkotaan Sorowako meliputi tiga desa, yakni Desa Sorowako, Desa Magani, dan Desa Nikkel.
Berdasarkan data Pemerintah Kecamatan Nuha, pada bulan Januari 2009, luas dan jumlah penduduk ketiga desa tersebut sebagai berikut: Desa Sorowako 178 km2, berpenduduk 8.168 jiwa; Desa Magani 206 km2, 9.221 jiwa; Desa Nikkel 151 km2, 6.760 jiwa.
Dua desa lain yang masuk dalam Kecamatan Nuha adalah Desa Matano, dengan luas 242 km2 dan berpenduduk 1.736 jiwa serta Desa Nuha, dengan luas 86 km2 dan berpenduduk 531 jiwa.
Sebagian masyarakat Sorowako bekerja sebagai karyawan PT Inco atau kontraktornya. Sebagian lainnya menggantungkan hidup dari hasil pertanian dan perkebunan. Selain itu, mereka juga membuka usaha lain, semisal perdagangan dan layanan jasa. Industri tambang PT Inco telah membuat Sorowako berkembang dari desa kecil menjadi kota industri  yang modern.
Sorowako dikala malam
Sorowako dikala malam
Orang asli Sorowako menggunakan bahasa yang mirip dengan Bahasa Mori, salah satu etnis di Sulawesi Tengah yang berbatasan dengan Desa Matano dan Nuha. Bedanya hanya pada aksen dan arti beberapa kata.  
Di kawasan perkotaan Sorowako, sekarang ini didiami oleh berbagai etnis dari seluruh pelosok tanah air, seperti Bugis, Makassar, Toraja, Jawa, Batak, dan lain-lain. Mereka hidup berdampingan dengan orang asli Sorowako, termasuk orang Karunsie, Tambee, dan Padoe. Selain itu sejumlah ekspatriat juga tinggal di Sorowako. Mereka berasal dari berbagai bangsa seperti Kanada, Brazil, Australia, Selandia Baru, Afrika Selatan dan lain-lain.

jelajah

Jelajah